Kamis, 24 Maret 2011

legend of gun roses

perdananya di Jakarta ini, GN’R akan tampil dengan formasi terbaru yang terdiri dari Axl Rose (vokalis utama), Dizzy Reed (kibor), Brian ‘Brain’ Mantia (mantan penggebuk dram grup Primus), Tommy Stinson (bas gitar), Robin Finck (mantan gitaris grup Nine Inch Nails), Paul Tobias (gitar) dan Chris Pittman (kibor). Walau tanpa kehadiran Slash, mantan gitaris GN’R yang hengkang pada 30 Oktober 1996, penampilan GN’R formasi mutakhir diyakini masih mampu memukau penggemarnya.
”Tanpa kehadiran Slash, tidak ada masalah. Apalagi masih ada Axl Rose yang menjadi roh GN’R. Malah saya dengar, setelah tidak ada Slash, mereka main lebih bagus, lebih sopan dan rapi. Justru dengan formasi sekarang, ini adalah sesuatu yang baru yang ditampilkan oleh GN’R,” sahut Tommy Pratama, managing director Original Production yang mendatangkan GN’R ke Jakarta ketika dihubungi Senin siang kemarin.
Masih menurut Tommy, ketika tampil di Rock In Rio terakhir di Rio de Janeiro, Brasil, mereka mampu menyedot tak kurang dari 250 ribu penonton. Ini membuktikan bahwa penggemar mereka tak pernah surut, meski sudah beberapa kali gonta-ganti personel. Alasan ini pula yang mendorong Tommy berani mengundang GN’R manggung di Jakarta.
”Saya yakin penggemar GN’R masih sangat banyak di sini. Makanya saya ingin sebanyak mungkin orang bisa menyaksikan konser mereka,” ujar Tommy yang memasang harga tiket relatif terjangkau mulai dari kisaran Rp75 ribu—Rp150 ribu untuk kelas festival serta Rp 250 ribu—Rp300 ribu untuk kelas VIP. Meski demikian, Tommy tak memasang target muluk-muluk hanya masimal 50 ribu dan minimal 25 ribu penonton.

Promosi Internasional
Mendatangkan grup sekelas GN’R tentu saja sangat besar risikonya, terutama jaminan keamanan selama konser. Ini pula yang menjadi prioritas Tommy sejak jauh-jauh hari. Dimulai dari pemilihan lokasi konser di ujung Jakarta Utara yang letaknya terisolir dan jauh dari pusat kota, memudahkan pengamanan dibandingkan bila konser digelar di pusat kota seperti di Stadion Senayan. Pertimbangan lainnya adalah Ancol yang letaknya berdekatan dengan Pangkalan TNI Angkatan Laut dan Korps Marinir. Masih ditambah sejarah Ancol yang sebelumnya pernah menggelar dua konser akbar seperti Phil Collins dan Bon Jovi yang cukup sukses.
”Kalau masalah izin dipertanyakan, saya justru heran. Sebab ajang seperti ini adalah kesempatan baik pada pemerintah juga aparat untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa keadaan negara kita aman-aman saja,” cetus Tommy yang sudah sukses menggelar konser band-band rock kenamaan dunia di Jakarta seperti Megadeth, Scorpions, Rick Wakeman serta Deep Purple.
Diakui Tommy, keberhasilan mereka memboyong GN’R adalah berkat pertolongan manajer Megadeth. Konser Megadeth di Medan tahun 2001 yang dinilai sukses membuat pihak manajemen Megadeth yang juga membawahi GN’R berjanji untuk menawarkan band asal Amerika itu untuk manggung di Jakarta.
”Ternyata mereka memenuhi janji. Bulan April kemarin saya diberitahu kalau GN’R jadi manggung di sini. Persiapannya sudah mencapai 90 persen,” kata Tommy yang harus membayar GN’R dua sampai tiga kali nilai kontrak Megadeth itu. Agaknya nilai sebesar itu bukan masalah bagi Tommy yang sudah merencanakan mengundang GN’R sejak tahun 2000. Kebetulan, tahun ini GN’R sedang menggelar konser keliling Asia dan Australia. Sebelum menggelar konser di Jakarta, tanggal 24 April lalu GN’R mengisi acara di Summer Sonic Festival –festival musik dua hari semacam Woodstock— di Jepang dan konser di Hong Kong.
Persiapan yang dilakukan Original saat ini, selain urusan keamanan adalah memenuhi raiders yang ditetapkan GN’R. Untuk soal yang satu ini, boleh dibilang cukup berat. Pasalnya, GN’R yang selalu manggung di stadion terbuka harus membawa peralatan seberat 30 ton atau lima kali lipat dari Megadeth. GN’R juga minta disediakan sound system 300-400 ribu watt ditambah lighting 500 ribu watt, yang merupakan jumlah paling tinggi yang pernah diminta oleh band-band rock yang pernah ditangani Original.
Selain itu, masalah pemberitaan juga menjadi perhatian tersendiri. Mengingat sejarah perilaku Axl Rose yang terkenal temperamental, Tommy meminta agar wartawan yang meliput memenuhi aturan main yang berlaku. Misalnya hanya memotret pada tiga lagu pertama saja.
”Pihak manajemen memang sudah mengatakan kalau sekarang perilaku mereka lebih bisa dikendalikan. Tapi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, kami harap wartawan bisa memenuhi aturan main yang berlaku,” kata Tommy merujuk pada kejadian beberapa tahun yang lalu saat konser di Amerika Axl Rose memukul fotografer yang nekad mengambil gambarnya meski sudah lewat dari waktu yang disepakati.

Bongkar Pasang
GN’R yang pertama kali didirikan di Los Angeles pada Maret 1985 dengan formasi awal Axl Rose, Izzy Stradlin (gitaris), Michael ”Duff” McKagan (bas), Tracii Guns (gitar) dan Rob Gardner (dram), mengalami beberapa kali bongkar pasang personel. Tapi, bisa dibilang GN’R mencapai puncak kejayaannya ketika Slash (gitaris) bersama Steven Adler (drum) bergabung tiga bulan kemudian menggantikan Guns dan Gardner.
Setelah meluncurkan album perdana mereka, Live ?!’@ Like A Suicide tahun 1986, baru di album keduanya, Appetite for Destruction (1987), GN’R meraih perhatian. Sejak saat itu, GN’R acapkali manggung dengan band-band rock kenamaan lainnya seperti Motley Crue, Iron Maiden dan Aerosmith. Bahkan manajer Aerosmith saat itu, Tim Collins sempat memuji bahwa GN’R bakal menyaingi ketenaran Aerosmith ketika GN’R menjadi model sampul majalah Rolling Stone. Ucapannya terbukti ketika album Appetite.. menduduki peringkat pertama dalam tangga lagu Billboard. Lagu-lagu dalam album tersebut seperti Welcome to The Jungle, Sweet Child O’ Mine dan Paradise City terbukti menjadi lagu hits sepanjang masa.
Kesuksesan ini mereka sambung dengan merilis album-album berikutnya seperti GN’R Lies (1988), Use Your Illusion I (1991), Use Your Illusion II (1991) dan Spaghetti Incident (1993). Dari sini lahir lagu-lagu hits lainnya seperti Patience, Live and Let Die, November Rain, Don’t Cry, One In A Million hingga Since I Don’t Have You. Meski mengundang kontroversi lewat lirik lagunya yang dinilai kasar dan seronok ditambah perilaku Axl yang terkenal temperamental –pernah memukul wartawan dan dipenjara—, GN’R tetap mendulang prestasi. GN’R tercatat sebagai band pertama sepanjang tahun 1980-an yang dua lagunya, One In A Million dan GN’R Lies secara bersamaan masuk dalam jajaran tangga lagu Top 5 di Amerika.
Sayang, ketika nama mereka sedang tenar, Slash mengundurkan diri tahun 1996 dan mendirikan band sendiri yang diberi nama Slash’s Snakepit dan Slash’s Blues Ball. Sepeninggal Slash, GN’R boleh dibilang mandul alias vakum karena tak satu pun album baru mereka keluarkan. Satu-satunya album yang mereka hasilkan adalah Live Era ‘87-’93 di tahun 1999 yang berisi kompilasi lagu-lagu hits GN’R, seakan mengenang tujuh tahun masa keemasan mereka. Meski demikian, nama besar GN’R tak sepenuhnya terlupakan. Tanggal 16 Maret 1999, GN’R meraih penghargaan Diamond Award dari RIAA atas prestasi penjualan album kedua mereka Appetite… yang cukup fantastis, tak kurang dari 15 juta keping di seluruh dunia.
Sebulan yang lalu sempat beredar gosip bahwa GN’R formasi baru akan merilis album terbaru mereka. Bahkan dalam situs tak resmi GN’R Here Today Gone To Hell, sudah menulis judul-judul lagu berikut nama albumnya, Chinese Democracy. Tapi tanggal 25 Juni kemarin, perusahaan rekaman dan pihak manajemen GN’R membantah berita ini. Tak jelas mengapa sampai beredar rumor seperti itu. Agaknya rumor itu dipicu dengan meningkatnya jadwal manggung GN’R selama tahun 2002 ini, tak hanya sebatas benua Amerika dan Eropa tapi juga merambah Asia. Akankah mereka seperti GN’R yang lama? Kita buktikan saja nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar